Mengulas berbagai tips menarik dan bermanfaat untuk acara ulang tahun anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua hingga ulang tahun pernikahan. Mulai dari ide acara, MC, Badut Sulap, Tema, Konsep, Dekorasi, Kado, Souvenir, serta pernak-pernik ulang tahun dan lain-lain.
Monday, August 13, 2018
Berbagai Tema Dekorasi 17 Agustus yang Unik
Wednesday, August 1, 2018
Jika Ini Waktuku
Ketika langit membisu
Ketika tanah tak bergeming
Ketika dingin membius malam yang tak bersuara
Dan ketika angin membawa sang selendang senja
Detak jantungku seakan melemah
Nadiku seakan berhenti berdenyut
Senyumku memudar terhapus air mata
Inikah saatku pergi
Meninggalkan sejuta warna
Meski usang tapi tak luput dari sejarah
Inikah batas waktuku
Meninggalkan seribu cerita dalam balutan cinta penuh luka
Jika memang ini waktuku
Izinkan dan ikhlaskan kepergianku
Tersenyumlah agar aku bahagia
Menuai cinta bersama sang belahan jiwa
Mengobati rindu yang terbelenggu dimakan waktu
Kerinduan
Kala malam bercahaya terang
Bulan ditemani bintang-bintang berkelipan
Seraut wajah tersenyum dalam ketenangan
Kuterpaku menatapnya
Ada setangkup haru dalam rindu
Terbayang dalam binar matanya
Sejuta cinta kasih yang tulus
Kasih yang tak pernah putus
Nampak kerut tulang pipimu
Menggambarkan betapa berat perjuangan hidupmu
Kini kau tampak tua
Namun kau tetap tabah
Ibu…
Dalam
hening sepi malam
Kumerindu
…
Teringat
canda tawamu kala kau melihat kelucuanku
Marahmu
kala aku membuatmu kesal
Hardikmu
kala aku membuat kesalahan
Tangismu
kala aku bersedih
Harumu kala aku bahagia
Namun ibu.. kini kau telah tiada
Belum sempat terbalaskan jasamu Ibu
Puisi Untuk Ayah
Ayah, saat peluhmu menetes
Kau masih tetap tersenyum
Dinginnya malam yang menusuk tulang
Tak pula kau hiraukan
Terik mentari yang menyengat tubuhmu
Ayah, hari ini usiamu bertambah lagi
Andai aku bisa
Membuat hadiah terindah untukmu
Tapi, waktu tak bersahabat padaku
Kini hanya doa yang dapat kuhadiahkan
padamu.
Ayah
Ayah…
Kau membanting tulang kurusmu
Menelan dahaga kehausan
Membungkuk di atas matahari
Merayap di kerikil setajam duri
Ayah…
Kau bertahan melawan waktu
Walau langkahmu penuh pilu
Tak pernah kau mengeluh
Di setiap butiran peluh
Ayah…
Kau tak pernah membasahi matamu
Dengan penyesalan di raut wajahmu
Kau tak pernah berpaling dari kehidupan
Walau kegagalan memberatkan punggungmu
Ayah…
Kau
selalu tersenyum
Meski
hati bersimpuh luka
Kau
selalu tertawa
Meski
kulit terbakar asa
Nunggu Mobil Lewat
DODON ÃngÃn pergà ke tempat temannya, sà Acep, yang berada
dà seberang jalan. Karena sayang banget sama Dodon, Ãbunya pun memberà nasÃhat.
Ibu : "HatÃ-hatà dà jalan, ya Don! Kalo kamu mau
nyebrang, tunggu mobÃl lewat dulu."
Dodon : "Iya... Bu!
Dodon berangkat dulu."
Satu jam kemudÃan, Dodon pulang dengan menangÃs terÃsak
Ãsak.
Ibu : "Lho... kenapa kamu nangÃs, Don? Kamu bertengkar
lagà sama Acep?"
Dodon : "Nggak kok, Bu!"
Ibu : "Lha terus kenapa?"
Dodon : "AbÃsnya udah satu jam Dodon berdÃrà dà pÃnggÃr
jalan nungguÃn mobÃl lewat, tapà nggak ada mobÃl yang lewat, Bu! Dodon
capeek...!!"
Ibu : "Oalah.. Don... Don...!”
Awas Katipu
SAUR Psikolog, kapribadian jalma teh bisa ditingali tina
hitutna.
1. Jalma teu jujur :
manehna nu hitut tapi sok nyalahkeun
batur.
2. Jalma koret : hitutna sok saeutik-saeutik bari laun.
3. Jalma sombong : hitutna disada mani Tarik.
4. Jalma teu gaul : lamun hitut sok nyumput eraeun.
5. Jalma sial : batur
nu hitutna, manehanana anu katempuhan.
6. Jalma bodo : sok ngambeuan hitut batur.
7. Jalma pinter : sok nudingkeun hitutna ka batur.
8. Jalma katipu :
nyaeta sing jalma anu geus maca tulisan nu ngabahas hitut ieu. He…he…!
Arti Sahabat
Diceritakan di sebuah kampung ada dua orang pemuda yang sudah bersahabat cukup lama, pada suatu hari mereka berjalan-jalan dan sempat berbincang-bincang.
Ucup: “ Asep kamu kan sahabat aku?”
Asep: “Iya, kenapa kamu tanya begitu?”
Ucup: “Kalo misalnya aku senang, apa yang kamu lakukan?”
Asep: “Ya ikut senanglah….!”
Ucup: ”Kalo misalnya aku sedih, kamu gimana?”
Asep: “Kita kan sohib, aku pasti ikut sedih…!”
Ucup: ”Kalo misalnya aku terjun ke jurang, kamu mau
ngapain?”
Asep: “Aku akan teriak dari atas, woy udah mati belum?”
Ucup: “Sue deh gue...!”
Tanya TPU
SUATU hari ada seorang kakek yang menanyakan tempat kepada
salah seorang anak yang ada di sana.
Kakek: ”Cep, Aki mau tanya, kalau mau ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) ke arah mana ya?”
Ujang: “Ohh Ki, lurus
aja. Nanti ada jalan raya, rumah sakit,
mesjid, jalan sedikit sampai di kuburan.”
Kakek: “Yah jauh amat, apa ada jalan pintasnya?”
Ujang: “Ada Ki”
Kakek: “Jalan mana?”
Ujang: “Aki lurus sampai ketemu jalan raya, terus Aki diam
di tengah jalan. Nah nanti Aki masuk rumah sakit, kalau beruntung, Aki langsung
dibawa ke mesjid, dari sana enak, Aki gak perlu cape-cape lagi jalan ke
kuburan, karena banyak jamaah yang nganter, dan tak lama kemudian Aki sampai di
kuburan, cepat kan Ki?”
Kakek: “…….??”
Wednesday, July 25, 2018
Panonpoena Dua
KACARITAKEUN di jero kelas, Pa Guru nitah murid-murid
paalus-alus ngagambar gunung. Barudak teu harese deui langsung we ngagambar.
Waktu Pa Guru keur ningalian gambar
hiji-hiji, aya hiji murid anu ngagambar gunung, tapi panon poena aya dua, Pa
Guru kaget, pok anjeunna nanya.
Pa Guru: “Jang, kunaon maneh mah ngagambar pamandangan
teh make aya dua panonpoena?”
Murid: “Muhun Pa, ieu mah ngarah caang we alam dunyana.”
Pa Guru (bari ngajewer ceuli muridna): “Naa ari maneh, bodo
teh beak kusorangan….!”
Muridna nyengir bari nahan kanyeri.
Dua Komentator Bola "Gila"
Momon: “Sesaat lagi pertandingan akan dimulai. Menurut Anda
apa yang akan terjadi pada babak pertama Bung?”
Dudung: “Yang pasti babak pertama akan berjalan 45 menit
Bung!”
Momon (senyum):
“Betul Bung, memang babak pertama akan berjalan 45 menit,
pertanyaanku, apa yang akan terjadi pada
45 menit babak pertama ini Bung, prediksi Anda?”
Dudung (tiis): “Yang akan terjadi pada 45 menit pertama ini
adalah mereka akan bermain bola
Bung….. !!”
Momon (tetep sabar): “Aaahhh……Udahlah, pertandingan sudah
dimulai Bung!”
Dudung: “Iya Bung….!”
Momon: “M. Ridwan menusuk dari sisi lapangan…!!”
Dudung: “Sakitnya tuh pasti di sini Bung..!” (sambil menunjuk jantung)
Momon: “Okto Maniani berani mencoba beradu sprint dengan
pemain lawan dan menang Bung.”
Dudung: “Iya Bung, coba kalau adu wajah pasti kalah pemain
kita Bung.”
Suasana tiba-tiba hening.
Momon: “Babak pertama berakhir dengan skor 0-0, sebelum
babak kedua dimulai, saya mau bertanya, apa Anda optimis bakal menang?”
Dudung: “Bukan Bung, saya komentator!”
Momon (mulai panas): “Wah di babak kedua nampaknya pemain
kita lebih bermain ofensif Bung!”
Dudung: “Salah lagi Anda, mereka bermain bola Bung, bukan
bermain ofensif.”
Momon (mulai berasap): “Irfan dan Ferdinand tampaknya sering salah pengertian ya Bung?”
Dudung: “Karena kalo mereka saling pengertian, pasti udah
jadian Bung.”
Momon: “Bung, menurut Anda selain postur tubuh, apa yang
menjadi kelebihan pemain Arab Saudi dibandingkan dengan pemain Indonesia Bung?”
Dudung: “Tentu saja pemain Arab Saudi jauh lebih pinter
bahasa Arabnya Bung!
Momon: “Irfan mengumpan bagus pada Gonzales Bung, daaaannn
tendangan keras dari El Locco.....aaaaaahhhh sayang sekali Bung!!
Dudung: “Aku juga sayang sekali ama kamu Bung!!”
Momon (mulai marah): “Aaaaaargh!!! Bung kita ini lagi Live,
serius!!”
Dudung: “Aku serius
ama kamu Bung!!
Momon (gembira): “Benarkah itu Bung?”
Dudung: “Iya Bung.. mmmmmmmuach…..!!
Akhirnya kedua
komentator gila itu jadian.
Mawar Yang Gugur
Darah melingkari arus pijakanku
Kutengok dan alur yang mengikuti
Tak sanggup mata yang melihat kekejian,
Namun langkah yang sempat hilang kini kembali pada sunyi. .
.
Mawar merah yang gugur dan hening
Ku tak yakin itulah kau di sini. . .
Mengantar seorang pucuk melati untuk kembali,
Sehingga ku hilang rasa dan merasa.
Apalah aku?
Kembalilah aku pulang
Sampai ke ujung tombak yang tajam. . .
Merayu dalam asa, namun tak bisa untuk kembali memulihkan
hati. . .
Marah tanpa arah. . .
Hilang tanpa mencari. . .
Pedih tanpa kau kembali. . .
Kudapati hanya dia bersamanya. . .
Dan mimpi yang indah itu hanya asap yang berdusta. . .
Mereka yang Duduk di Kursi
Sudahlah.. matikan saja semua lampunya
Atau mungkin nyalakan satu lampu cempor
Agar mereka leluasa
Merampok separuh daging kita
Oh.. hatiku serasa ingin mati!
Tak kuat lagi aku untuk menangis
Rasanya ingin kutuangkan secangkir kopi panas
Pada wajah busuk mereka
Atau.. biar kubunuh sajalah!
Apa? Kau pikir aku kejam?
Hah.. ini sungguh tak sebanding
Jika setiap hari mereka hanya duduk di atas kursi mewah
Yang juga mereka curi dari hotel..
Sambil menghisap cerutu
Dengan santainya mereka hanya melihat
Budak-budak merasakan asin keringatnya sendiri
Hai tikus-tikus yang rakus!
Ke mana perginya hatimu?
Laganya saja memakai jas berdasi
Tapi moralnya bagai tak berbudi pekerti
Oh Tuhan.. aku tahu Kau Maha Baik..
Tapi apa Kau sengaja membiarkan mereka?
Dengan segala resah..
Aku hanya meminta
Jangan Kau jadikan anak-anaknya nanti
Tiada beda dengan bapaknya..
para koruptor!!
Terkenang Yang Lalu
Dunia baru mulai merambah
Terbuka gerbang dunia yang berbeda
Di dalamnya, orang-orang dusta berbalut senyuman
Orang-orang biadab menjadi beradab
Detik-detik yang kutunggu telah tiba
Detik-detik kedewasaan mulai terhirup
Detik-detik yang katanya "asyik" akan menjemputku
Namun, di balik detik-detik itu aku meronta
Di mana kalian?
Di mana kesetiaan kalian?
Di mana kata-kata manis yang kalian umbarkan?
Tinggal ampas yang kalian sisakan!
Berbeda, memang...
Sembunyiku di antara kalian
Nostalgiaku dalam lamunan
Aku susuri lautan yang sesak oleh kenangan yang lalu
Jatuh Cinta
Penari hati berpijak di atas harap
Bayang tak pernah luput dari penari
Tumbuhnya seribu mimpi
Berwujud bayang dalam harap
Tersiksa ku di antara
malam
Penari tak pernah berhenti mengusik
Ingin rasanya menjerit
Tapi jiwa malah tersipu
Malam seakan mengejek
Haruskah aku tinggalkan harap?
Kemudian pergi ke bulan?
Agar penari berhenti menari dan aku
bisa terbang bersama mimpi
Surat Dari Ibu
Pergi ke dunia luas anakku sayang
Pergi ke kehidupan bebas
Selama angin masih buritan
Dan matahari pergi menyinari daun-daun
Dalam rimba dan padang hijau
Pergi ke laut anakku sayang
Pergi ke alam bebas
Selama hari belum petang
Dan warna senja belum kemerah-merahan
Menutupi pintu waktu lampau
Jika bayangan sudah pudar
Dan elang laut pulang ke sarang
Angin bertiup ke benua
Tiang-tiang seakan kering sendiri
Dan nahkoda sudah tahu pedoman
Kembali pulang anakku sayang
Kembali ke balik malam
Jika kapalmu telah merapat ke tepi
Kita akan bercerita
Tentang cinta dan hidupmu
Di pagi hari...
Tuesday, July 24, 2018
Gara-Gara Punya Sebuah Radio
Diceritakan dalam sebuah keluarga yang baru menikah hanya terdiri dari suami isteri saja, dan hanya memiliki sebuah radio sebagai satu-satunya media informasi dan hiburan. Ketika itu, radio memang merupakan salah satu media informasi yang paling populer, lain halnya dengan sekarang. Kita bisa mendapatkan berbagai informasi dari berbagai macam media, termasuk dari internet. Dengan adanya satu buah radio tersebut sementara mereka punya acara kegemaran masing-masing yang berbeda.
Pada suatu saat di sore hari, ketika sang istri hendak memasak sambil mengikuti resep memasak yang disampaikan dalam radio tersebut, tiba-tiba sang suami datang ingin mendengarkan siaran langsung sepak bola. Karena mereka hanya memiliki satu buah radio, akhirnya pasutri tersebut berebutan mengganti saluran kesukaannya. Sehingga akibatnya apa yang terdengar dari
siaran radio tersebut menjadi aneh. Apa yang terdengar dari siaran radio tersebut, kurang lebih seperti ini:
"Para pendengar sekalian, kita akan mulai acara memasak
hari ini dengan menu antara Persija melawan Persib. Wasit sudah meniup sebuah
wortel muda. Kemudian dioper kepada pemain depan yang dicincang sampe halus,
bumbu yang sudah digoreng dapat ditangkap dengan baik oleh penjaga gawang
persija.
Lima siung bawang merah terjebak offside Saudara-Saudara....
apa yang terjadi... ? Bawang bombai yang sudah dicincang melakukan protes
kepada wasit dan kemudian diberi kartu kuning. Tendangan bebas akan segera
dilakukan oleh cabe keriting. Tiga ikan gurami sudah menunggu di depan gawang.
Tendangan bebas sudah dilakukan, bola menuju ke penggorengan
yang sudah dipanaskan dan disambut oleh garam secukupnya dengan sundulan... dan
masuuuuk…..! Saudara-Saudara, demikian akhir pertandingan ini, akan terasa
nikmat jika disajikan dalam keadaan masih hangat. Jangan lupa
menambahkan pemain cadangan agar gurihnya lebih terasa....."
Kan Ku Ingat
Kawanku
Inilah hidup
kadang kita melihat
suatu saat kita kan menutup
ribuan jalan telah kita lewati
berbagai rintangan telah kita lalui
penuh keharuman bunga maupun bertabur duri
penuh suka maupun duka di hati ini
namun, kita telah tahu
kita tak selamanya bersatu
menempuh jalan hidup yang bertabur debu
bertabur dedaunan yang tak pernah tersapu
Semua bukanlah sekedar kenangan
semua bukanlah sekedar renungan
saat kita dalam kebersamaan
dalam suka maupun pengorbanan
Dalam Dekapan Mereka
Di bawah rembulan, aku mengadu
Di bawah bintang-bintang, aku berkeluh kesah
Di bawah langit malam, aku berbisik
Di bawah mereka, aku didekap
Jeritan-jeritan terhenti di kerongkonganku
Raungan cerita ingin aku curahkan
Mencurahkan pada mereka
Namun, kelu menyuruhku diam dalam kesendirian
Ramai, namun sepi
Di depan mereka aku bertopeng
Tersenyum dalam tangis
Menangis di dalam senyuman
Selamat Tinggal
Cinta…
Akan terasa hangat
Bak mentari pagi menyinari bumi
Saat menyambutnya dengan kebahagiaan
Namun cinta jugalah…
Yang membuat sengsara
Saat cinta telah membutakan
Mata hati dan pikiran
Senyum tak lagi merekah
Bahagia tak lagi terasa
Saat cinta mengatakan Selamat Tinggal…!
Subscribe to:
Comments (Atom)
Perlu Artikel Lain? Silahkan Cari Lagi di sini:
Artikel Populer
-
Diceritakan di sebuah kampung ada tiga orang teman, namanya si ""Bodoh", si "Harga Diri" dan si "Mati"....
-
Dunia baru mulai merambah Terbuka gerbang dunia yang berbeda Di dalamnya, orang-orang dusta berbalut senyuman Orang-orang biadab men...
-
Penari hati berpijak di atas harap Bayang tak pernah luput dari penari Tumbuhnya seribu mimpi Berwujud bayang dalam harap Tersik...
-
Pergi ke dunia luas anakku sayang Pergi ke kehidupan bebas Selama angin masih buritan Dan matahari pergi menyinari daun-daun Dalam...